Berikut ini penyebab kista giardia lambia itu terjadi

Giardiasis atau kista giardia lambia merupakan suatu gangguan pencernaan akibat infeksi parasit pada usus halus. Parasit tersebut dinamakan Giardia lamblia. Giardiasis ini banyak ditemukan di wilayah padat penduduk dengan sanitasi yang buruk dan kualitas air yang tidak bersih. Penyebab kista giardia sehingga dapat menular melalui air atau makanan yang terkontaminasi parasit, serta kontak langsung dengan penderita. Untuk mengatasinya, terkadang diperlukan obat resep dari dokter. Dapat kita ketahui pula, pada umumnya, gejala giardiasis tersebut dapat muncul 1-3 minggu setelah terjadi infeksi. Gejala tersebut dapat berlangsung selama 2-6 minggu, atau bahkan bisa lebih lama. Gejala-gejala tersebut antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Lemas
  • Sakit kepala
  • Perut kembung
  • Kram perut
  • Diaredengan tinja yang berminyak
  • Sering buang gas atau kentut
  • Hilang nafsu makan
  • Berat badan menurun

Penyebab kista giardia atau giardisis karena faktor dari infeksi parasit Giardia lamblia. Parasit tersebut hidup di tinja manusia dan hewan, serta dapat mencemari air, tanah, dan makanan. Giardiasis ini pada umumnya terjadi ketika air yang terkontaminasi parasit tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang. Air yang terkontaminasi ternyata bisa berasal dari sumber air mana pun, terutama air sumur yang letaknya dekat dengan toilet. Giardiasis ternyata juga dapat menular melalui makanan. Akan tetapi, cara ini lebih jarang terjadi karena parasit akan mati jika makanan dimasak hingga matang. Meski demikian, tidak mencuci tangan sebelum makan atau mencuci alat makan dengan air yang terkontaminasi, ternyata juga dapat menjadi sarana penyebaran parasit. Selain melalui air dan makanan, seseorang juga dapat tertular giardiasis melalui kontak langsung dengan orang lain. Misalnya ketika mengganti popok anak yang sedang mengalami penyakit tersebut, atau bahkan ketika sedang melakukan hubungan seks anal (seks melalui dubur) tanpa kondom dengan penderita giardiasis. Giardiasis tersebut dapat dialami oleh semua orang, namun lebih berisiko terjadi pada anak-anak yang dititipkan pada tempat penitipan anak (TPA), terutama anak yang masih buang air besar di popok. Selain itu, petugas TPA juga lebih berisiko terkena penyakit ini. Penyakit ini sering terjadi pada orang yang tinggal di area bersanitasi buruk, dengan sumber air yang tidak bersih. Jika tidak berhati-hati, orang yang mengunjungi daerah tersebut juga dapat terinfeksi.[1] “dilansir dari laman Halodoc” Pada umumnya, pengidap penyakit tersebut akan diberikan antibiotik (seperti metronidazole) untuk dapat membunuh parasit penyebab kista giardia tersebut. Seperti yang terjadi pada umumnya pada kasus diare, karena penting sekali untuk menjaga kecukupan cairan dan elektrolit agar kebutuhan cairan pengidap tetap terpenuhi dan dapat terhindar dari dehidrasi. Pengobatan lainnya akan disesuaikan dengan gejala yang dialami dan pengidapnya. Misalnya, penggunaan paromomycin yang umumnya digunakan oleh pengidap yang sedang hamil. Obat tersebut memiliki risiko kelahiran cacat yang lebih rendah dibandingkan dengan jenis obat antibiotik lainnya. risiko terkena komplikasi akan lebih besar, jika tidak ditangani dengan baik khussunya pada bayi dan anak. Berikut beberapa resiko yang akan dialami seperti:

  • Intoleransi laktosa, yaitu ketidakmampuan tubuh dalam mencerna kandungan gula dalam susu dengan baik dan dapat terus berlanjut walau infeksi telah hilang.
  • Ini dipicu oleh diare parah dan dapat mengganggu tubuh dalam menjalankan fungsi-fungsinya.
  • Perkembangan fisik dan mental yang terhambat akibat malnutrisi yang terpicu oleh diare kronis dari kondisi ini.
READ  Penting kita ketahui beberapa resiko kista giardia yang dapat terjadi.

Penyakit giardiasis tidak dapat dicegah melalui pemberian vaksin atau obat-obatan. Tapi, beberapa tindakan ternyata dapat membantu menurunkan risiko terkena penyakit tersebut, sepertihalnya:

  • Menghindari berenang di kolam, sungai, atau danau di daerah berpolusi atau memiliki tingkat sanitasi yang rendah. Jika tetap ingin berenang, usahakan agar tidak menelan air kolam, sungai, atau danau.
  • Mencuci tangan dengan benar. Beberapa momen penting di mana mencuci tangan tidak boleh dilupakan adalah usai menggunakan toilet, mengganti popok anak, saat menyiapkan makanan, dan sebelum makan.
  • Merebus air yang akan dikonsumsi hingga matang, khususnya jika sumber air berasal dari sumur, sungai, atau sumber air lainnya. Jika perlu, pengidap bisa mengonsumsi air kemasan.
  • Menghindari perilaku seks bebas dan berusaha melakukan seks yang aman.
  • Menghindari konsumsi minuman dan makanan yang tidak diketahui secara pasti kebersihan dan keamanannya.
READ  Mengenal cara mengatasi dan Informasi Seputar Impotensi

 

Sumber referensi Alodokter.com

Posted in <a href="http://www.synergyaids.org/category/blog/" rel="category tag">Blog</a>